Game Theory 1

 

“If you can’t explain it simply, you don’t understand it well enough”

Albert Enstein

game-theory1

Game theory merupakan simplifikasi dari realitas, sebuah upaya untuk memetakan realitas dalam fragment pilihan yang beredar. Game theory adalah model matematis dari interaksi strategi yang digunakan oleh pemainnya, dimana interaksi ini akan memberi implikasi terhadap outcome apa yang akan didapat oleh para pemain (Easley & Kleinberg, 2010; Poundstone, 1992). Game theory memberikan  situasi dimana 2 atau lebih pemain membuat keputusan dari beberapa opsi yang tersedia, pilihan masing-masing pemain akan mementukan keluaran atau hasil dalam permainan (Rapoport & Chammah, 1970). Secara umum pilihan tersebut terkait dengan konflik kepentingan antar permainan.

Melalui eksperimen laboratorium dengan melibatkan 567 partisipan sub-urban di Jepang, Yamagishi, Li, Takagishi, Matsumoto, dan Kiyonari (2014) menunjukan hanya 31 partisipan atau 7% partisipan yang benar-benar konsisten dengan asumsi homo economicus. Temuan ini jelas memberikan hal yang menarik; pertama, ternyata homo economicus hanya sebagian kecil dari populasi partisipan penelitian tersebut. Partisipan yang gagal konsisten dengan kriteria homo economicus ternyata melakukan tingkah laku kooperatif saat tidak memaksimalkan nilai kegunaan dirinya dan bahkan tidak melakukan tingkah laku kooperatif saat tindakan tersebut memberikan maksimalisasi kegunaan. Kedua, Yamagishi, Li, Takagishi, Matsumoto, dan Kiyonari (2014) menggunakan game theory untuk menangkap putusan dari partisipan.

Pada perkembangan awalnya game theory merupakan sarana untuk memberikan pendekatan yang normatif, dalam memberi rumusan tentang apa pilihan paling rasional yang diambil individu dalam situasi semacam itu. Game theory modern pada awalnya diperkenalkan oleh John von Neumann and Oskar Morgenstern pada tahun 1944, dan kemudian disempurnakan dengan kajian komprehensif soal strategi oleh John Nash pada tahun 1950 (Camerer, Loewenstein, & Rabin, 2004). Perkembangan tersebut tetap mempertahankan adanya asumsi soal selfishness yang rasional dari pemain yang akan mendasari keputusan.

Secara umum game theory mencoba memberikan simulasi dalam situasi untuk memutuskan melakukan tingkah laku kooperatif yang menguntungkan sosial atau tingkah laku non-kooperatif yang memberikan nilai guna maksimal bagi diri sendiri secara langsung. Game theory dianggap dapat merepresentasikan situasi dalam keseharian karena memberikan outcome yang kaleidoskop, artinya dinamis terkait dengan pillihan orang lain sehingga konflik tidak lagi soal pilihan rasional belaka, melainkan juga punya kompleksitas tambahan karena berhadapan dengan individu lain yang tidak bisa dipercaya begitu saja (Poundstone, 1992, p. 39).

Perkembangan awal game theory memang masih sebatas berlandaskan pada asumsi bahwa nilai guna maksimum individu hanya akan didapat apabila bertindak rasional dan selfish. Akan tetapi Colman (2003) menggaris bawahi kekurangan asumsi ini, dimana dalam game theory ternyata ditemukan bahwa banyak tingkah laku individu yang justru mendapatkan hasil lebih baik apabila bertindak tidak ketat pada rasionalitas, yakni dengan melakukan tingkah laku kooperatif. Pada perkembangan lanjutan, game theory juga berkembang menanggapi kekurangan tersebut dengan meninggalkan asumsi tunggal rasionalitas dan memberikan kompleksitas layaknya interaksi dalam keseharian dengan memberikan fondasi psikologis yang lebih realitas (Camerer, Loewenstein, & Rabin, 2004, p. 3). Pendekatan tersebut disebut sebagai Behavioral Economics, dimana pada titik ini game theory tidak lagi menjadi milik ekonomi melainkan juga digunakan dalam berbagai penelitian psikologi.

Referensi

Camerer, C. F., Loewenstein, G., & Rabin, M. (2004). Advances in behavioral economics. New Jersey: Princeton University Press.

Colman, A. M. (2003). Cooperation, psychological game theory, and limitations of rationality in social interaction. Behavioral and Brain Sciences, 26 (2), 139-198. Retrieved from https://www2.le.ac.uk/departments/psychology/ppl/amc/articles-pdfs/coopbbs.pdf

Easley, D., & Kleinberg, J. (2010). Networks, crowds, and markets: Reasoning about a highly connected world.  New York: Cambridge University Press.

Poundstone, W. (1992). Prisoner’s dilemma. New York: Anchor Books.

Rapoport, A., & Chammah, A. M. (1970). Prisoner’s dilemma: A study in conflict and cooperation. USA: The University of Michigan Press.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s